Senin, Oktober 29, 2012

CITA CITAKU SETINGGI TANAH

Produser   : Eugene Panji  
Sutradara : Eugene Panji  
Penulis      : Satriono 
Pemeran   : M. Syihab Imam Muttaqin, Rizqullah Maulana Dafa, Iqbal Zuhda Irsyad, Dewi Wulandari Cahyaningrum, Agus Kuncoro, Donny Alamsyah, Nina Tamam, Iwuk Tamam, Luh Monika Sokananta  
Durasi      : 82 minutes 

http://www.analisadaily.com/im4g3sf1l3/film_citacitaku_setinggi_tanah_83.gif

 A STORY ABOUT DREAM

Film ini BAGUS SEKALI untuk ditonton....KEREN.....dan WAJIB di tonton !!
baru kali ini, setelah Laskar Pelangi, saya sampai menangis terisak - isak... sangat menyentuh hati.
Film ini mengingatkan akan masa kecil saya, ketika saya harus menabung dalam celengan bambu, menahan hasrat untuk jajan karena uang jajan yg sangat pas pasan, menabung dalam celengan bambu adalah hal yang sangat sulit saya lakukan saat saya masih kecil. Mungkin itulah sebabnya setelah bekerja dan punya uang sendiri, saya jadi konsumtif ;)

Dikisahkan 4 sahabat anak SD yang ditugaskan gurunya untuk menuliskan citacitanya. Sebelumnya ibu guru menanyakan masing-masing anak. Agus (M. Syihab Imam Muttaqin), merupakan seorang pelajar sekolah dasar dari daerah Muntilan, Jawa Tengah, memiliki  cita-cita yang sangat sederhana, hanya ingin makan di restoran Padang. Sementara tiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana Dafa) ingin menjadi seorang tentara, Puji (Iqbal Zuhda Irsyad) berharap ingin menjadi seseorang yang dapat membahagiakan orang lain dan Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum) bermimpi menjadi seorang bintang sinetron. Ibu guru pun kembali bertanya untuk memastikan supaya Agus tidak keliru. "Iya, benar kok! Cita-cita saya adalah ingin makan di restoran Padang!" Agus tak bergeming.
Heran ? saya juga :) cita-cita yang jelas kemudian dianggap remeh oleh teman-temannya, padahal Agus punya alasan sendiri dan sangat realistis, karena Ibunya sangat pandai masak tahu bacem, saking pinternya, tiap hari pagi siang dan malam, sejak Agus kecil sampai SD, masaknya ya cuma tahu bacem :) tentu saja Agus bosan. Kebetulan juga bapaknya kerja di pabrik tahu.
Untuk makan di restoran Padang jelas membutuhkan biaya. Agus yang ingin makan di restoran padang, karena untuk bisa makan di restoran padang mereka berfikir setiap piringnya mereka harus membayar lima ribu rupiah, dan biasanya di restoran padang disajikan bisa sampai 10 piring yang berisi lauk pauk yang menggiurkan. karena itu mereka merasa makan direstoran padang itu mahal. Agus minta dibelikan kertas, lem dan manik-manik pada Ibunya untuk mewujudkan cita-citanya, tentu saja Ibunya tidak mengerti. Ketika meminta pada  Bapaknya bukannya dikasih uang, malah diberi nasehat bahwa pendidikan jaman sekarang serba uang beda dengan jamannya dahulu yang hanya mengandalkan otak. Agus yang penurut tidak berani membantah Ayahnya. Karakter ayah Agus  terlihat sebagai sosok ayah yang tidak begitu peduli pada anaknya, tidak ada kehangatan dan keakraban antara Ayah dan anak. 
Tidak mendapat dukungan dari orang tuanya hampir saja Agus putus asa, sampai untuk menuliskan cita-citanya pada selembar kertas mengalami kebuntuan. 
Bagi Agus, makan di sebuah restoran Padang adalah sebuah kemewahan yang menuntutnya harus berusaha terlebih dahulu sebelum dapat mewujudkannya. Dan ketika teman-temannya hanya dapat terus berharap suatu saat cita-cita mereka dapat tercapai, Agus telah memulai mewujudkan mimpinya. Sesuai petuah Mbah Tapak : cita-cita bukan untuk di tulis, tapi untuk diwujudkan.  Karena itu Agus menunda menulis cita-citanya untuk mulai mewujudkan cita-citanya, dengan menabung pada celengan bambu. celengan bambu inipun ia buat sendiri bersama temannya Puji. Agus tidak mau membeli layangan ataupun jajan demi menabung untuk beli nasi padang. Koin demi koin terkumpul. Suatu saat kegiatan menabungnya terhenti karena oleh ibunya Agus tidak diberi uang jajan lagi, sebagai gantinya ia dibawakan bekal dari rumah. Tidak mendapat uang jajan tidak membuat Agus menyerah ada cara lain yaitu tanpa sepengtahuan orang tuanya, ia berjualan keong. Suatu saat secara kebetulan Ayahnya memintanya mengantar Tahu ke rumah saudagar Ayam, Agus diminta mengantarkan ayam ke restoran Padang, tempat yang diidamkannya itu.
Rupiah demi rupiah terkumpul, serasa cukup ia pecahkan celengan bambu dan hasil yang terkumpul ditaruhnya di kantung plastik. Jumlahnya lumayan cukup untuk memujudkan cita-citanya itu. Agus meminta bantuan Sri untuk membeli bahan bahan membuat topi raja dari kertas, lengkap dengan manik-maniknya :) 
Agus Suryowidodo anak penurut, tidak pernah mengeluh dan berpikir jauh kedepan. Untuk biaya tambal ban saja tidak mau minta orang tua, malah ngambil dari celengannya. Suatu pagi, Ibunya membangunkannya untuk menimba air di sumur. Agus membawa kantong uangnya. Namun akibat kecerobohannya sendiri kantung plastik itu jatuh ke sumur, uang yang di kumpulkan dengan susah payah hilang begitu saja dan membuatnya sedih (saya juga sedih hiks). Sekali lagi mbah Tapak mampu menghibur hatinya dan mengatakan: Nasib seseorang, orang itu sendiri yang menetukan, cobaan pasti ada, tapi rejeki juga selalu mengikuti, yang penting usahanya, tidak ada cita-cita yang mudah.  Rejeki tidak pernah pergi, cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
Agus yang pendiam tidak pernah mengutarakan cita-citanya pada siapapun. Tidak lama rejeki itu kembali. Neneknya tanpa sengaja menemukan pecahan celengan Agus di Sumur. Ketika akan kembali ke kampung halaman, neneknya memberikan uang saku dalam jumlah yang banyak, dan menasihati Agus bahwa Yang penting bukan seberapa besar atau tinggi cita-citanya, tapi seberapa besar usaha untuk mencapai cita-citanya. Akhirnya wajahnya ceria kembali, cita-citanya akan segera terwujud.  
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini, bahwa tidaklah penting seberapa besar atau tingginya cita-cita itu yang penting adalah mewujudkannya. Dalam mencapai cita-cita tentu ada tantangan dan hambatan yang kita harus mampu mengatasinya dengan tetap tegar dan sabar. 

Buat apa jadi raja kalo tdk punya teman. Cita-cita bukan untuk dinikmati sendirian

 

Tidak ada komentar: