Minggu, September 02, 2012

BROMO



 LEBIH DEKAT DENGAN HINDU TENGGER DI YADNYA KASADA 2012

look my cruncy new friends ;)
Ini adalah pertama kalinya saya traveling dengan mengikuti group yang ada di internet. Biasanya saya pergi dengan teman-teman yang sudah saya kenal, atau benar-benar pergi sendiri. Deg-degan....exciting....seperti apa ya teman-teman baru saya nanti :) ternyata sangat menyenangkan ya punya teman baru dengan hobi yang sama.....akhirnya setelah trip ke Bromo ini selesai, kami sering janjian untuk hang out bareng hehee
Pertama bertemu, kami janjian di Masjid Bandara Juanda Surabaya jam 13.00 Wib. Mobil jemputan sudah menunggu dan langsung mengantar kami ke Bromo. Perjalanan dari Surabaya ke Gunung Bromo membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Sepanjang perjalanan, setelah memasuki desa Sukapura, kami disuguhi pemandangan gunung dan lembah yang hijau. Kami menginap di guesthouse terdekat di kaki Bromo dengan tarif 350rb/malam/rumah. Kelompok kami terdiri dari 11 anggota dan 1 leader. Guesthouse yang kami tempati terdiri dari 6 kamar dan 1 kamar mandi. Jangan bayangkan mandi, cuci muka saja sudah membuat kami menggigil...brrrrrr



Gunung ini memiliki keunikan panorama indah sekaligus mistis sehingga menyodorkan suasana berbeda dibandingkan gunung lainnya. Di sini terbantang keindahan lanskap pegunungan dengan asap yang membumbung dari kawahnya dan di bawahnya ada lautan pasir luas menggelilinginya. Pemandangan sunrise dan sunset di sini sungguh menakjubkan dan keindahannya tidak dapat ditemukan di belahan dunia lain. Wisatawan dari berbagai negara datang ke Bromo untuk menikmati keindahan yang terpancar seakan tidak akan pernah ada habisnya.

 
Jumat - Sabtu, 3-4 Agustus 2012 adalah perayaan Upacara Kesada Suku Tengger di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Pada malam ke-14 bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak gunung bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak, lalu dilemparkan ke kawah gunung bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Sang Hyang Widi.
Upacara ini dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama di bulan Kasodo menurut penanggalan Jawa.
Sebelum Upacara Kasada Bromo dilangsungkan, calon dukun dan tabib akan menyiapkan beberapa sesaji untuk dipersembahkan dengan cara melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Persembahan sesajen ini dilakukan beberapa hari sebelum upacara. Mereka juga harus melalui tes pembacaan mantra terlebih dahulu saat upacara berlangsung sebelum dinyatakan lulus dan diangkat oleh tetua adat. Peran dukun atau tabib badi suku Tengger sangat kuat karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan masalah yang dialami oleh masyarakatnya. Tabib ini dapat melafalkan mantra-mantra kuno Hindu.

Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Roro Anteng Joko Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual.
Setelah upacara selesai sekitar pukul 04.00 masyarakat tengger mulai bersiap untuk membawa ongkek/wadah yang berisi sesaji untuk dibawa ke kawah gunung bromo. Pukul 05.00 tepat masyarakat pembawa ongkek mulai menaiki tangga menuju puncak gunung bromo. Ongkek yang berisi sesaji tersebut mulai dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol rasa terima kasih mereka terhadap sang Hyang Widi atas ternak dan pertania yang berlimpah. Sesaji tersebut berupa buah-buahan, hasil pertanian serta hasil ternak. Pemandangan yang tak kalah menarik terdapatnya orang-orang dari luar Tengger didalam kawah dengan harapan mendapatkan sesaji yang dilemparkan penduduk Tengger.
Suku Tengger di Bormo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat Hindu lama yang menjadi pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar termasuk menerapkan hidup yang sangat jujur dan tidak iri hati. Menurut penuturan masyarakat setempat, diyakini bahwa suku tengger adalah keturunan Roro Anteng, yaitu seorang putri dari raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu putera seorang brahmana. Bahasa daerah yang mereka gunakan sehari hari adalah bahasa Jawa Kuno. 
Asal mula nama suku Tengger diambil dari nama belakang Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”. Suku Tengger adalah pemeluk agama Hindu lama dan tidak seperti pemeluk agama Hindu umumnya yang memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan. Untuk melakukan peribadatan maka mereka akan melakukannya di punden, danyang dan poten. Poten sendiri merupakan sebidang lahan di lautan pasir di kaki Gunung Bromo sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga mandala.
Apabila Anda berminat menyaksikan Upacara Kasada Bromo maka disarankan datang sebelum tengah malam karena ramainya persiapan para dukun dan masyarakat. Masyarakat akan mengendarai sepeda motor atau kendaraan pribadi sehingga membuat jalanan menuju kaki gunung sangat macet. Perlu diperhatikan juga bahwa jalan lain ke arah gunung perlu beriringan dengan rombongan agar tidak tersesat akibat kabut tebal dan jarak pandang yang terbatas karena debu. Namun kalau anda teliti, sebenarnya telah dipasang batu pembatas di sisi jalan menuju Pura agar para pengunjung tidak nyasar ;)
Masyarakat Tengger sangat ramah terhadap para tamu, namun mereka malu-malu kalau tahu kita foto hehe. Sekedar tips, anda wajib membawa masker yang tebal, karena debunya sangat menggila dan tidak baik untuk paru-paru. Saya langsung demam setelah pulang dari Bromo, karena alergi debu padahal sudah mengenakan masker :( tanpa masker dan kacamata, rasanya mustahil saya bisa menembus badai debu ini. Rasa lelah karena tingginya tangga menuju kawah dan sesaknya nafas saya karena debu, tak bisa membendung semangat saya untuk melihat prosesi Kasada ini :)






I LOVE INDONESIA !
























Senin, Agustus 13, 2012

IBUK,

Judul              :  IBUK,
Penulis           :  IWAN SETYAWAN
Penerbit         :  PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
Terbit             :  JUNI 2012
Tebal              :  293 HALAMAN

                                                     
SEANDAINYA SEMUA ANAK BISA MENULISKAN KISAH TENTANG IBUNYA SEINDAH TULISAN MAS IWAN SETYAWAN......SETIAP IBU PASTI BANGGA......SEPERTI BANGGANYA IBUK, PADA BAYEK :)

Saya suka dan sukaaaa sekali akan gaya bahasa penulis dalam menceritakan kisah hidupnya...ringan dan menyenangkan...bahkan hidup yang sulitpun digambarkan dengan jenaka ;
 to love is to act
Tak ada janji yang terungkap dari mulut mereka. Tapi hati mereka telah berikrar untuk mencintai satu sama lain, dengan sederhana. Mereka tidak saling memberikan harapan tapi mereka akan memperkuat satu sama lain.
  
Kisah pertemuan Ibuk dan Bapak, juga digambarkan dengan manis....seolah-olah penulis menyaksikan sendiri "tatapan mata itu membekas diantara tumpukan baju, sang playboy pasar terseret keluguan dan kesejukan tatapan Tinah. Tatapan mata sang kenek angkot diam-diam meyelinap di hati Tinah, menyesakkan dadanya. menghentikan waktu yang berputar" *aseeekkk*

cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati.

Ibuk, adalah hijau pepohonan yg menutupi kegersangan. Napas buat kehidupan. cinta Ibuk, terbisikkan lewat nasi goreng terasi. Ibuk, sendiri tak jarang harus mencampur nasi goreng dengan nasi putih. Keindahan berbagi yang akan dibawa anak-anak ketika dewasa. Bukan hanya nasi goreng, mereka juga berbagi hati. Ada kehangatan yang tertinggal di ruang tamu :)

Ibuk melalui hidup sebagai perjuangan. Tidak melihatnya sebagai penderitaan, “Itulah hidup, Yek, memang mesti dijalani dengan kuat, tabah. Dengan perjuangan. Rasa enak itu baru terasa setelah kita melalui perjuangan itu”.
Kesulitan ekonomi bukanlah hambatan bagi ibu untuk memperjuangkan semangatnya melihat anak-anaknya sekolah setinggi mungkin, dari buku, baju, uang jajan, sampai sepatupun harus nyicil...giliran satu persatu...."Ya, seperti sepatumu ini, nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat! Buatlah pijakanmu kuat. Kita beli sepatu baru kalau ada rejeki" hiburI buk pada Nani saat sepatunya yang sudah setahun jebol.
Mungkin anak-anak ini telah merasakan keringat Bapaknya menetes di kulit mereka. Mungkin, cinta ibuk telah memasuki darah mereka, lewat bubur beras merah dan sinar matanya yang syahdu. Mungkin, anak-anak ini tersentuh oleh hidup Bapak dan Ibuk yang sederhana dan penuh keprihatinan. Hidup adalah perjalanan membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Hidup akan penuh dengan perjuangan, dan itu yang akan membuat sebuah rumah semakin indah.

"Meskipun banyak kebocoran disana sini, kita mesti bersyukur. Kita ada di rumah sendiri. Ada tempat untuk makan pisang goreng bersama-sama" sesederhana itu pemikiran Ibuk,

Kenangan masa kecil yang sulit namun indah, menjadi bekal Bayek memperjuangkan perubahan nasib keluarganya. Bayek berjuang menjadi yang terbaik sejak masa sekolah hingga lulus kuliah. Mengingat kerja keras Bapak menjadi sopir, Bayek selalu berusaha bekerja lebih daripada rekan kerjanya, mengantarnya menjadi Direktur di sebuah perusahaan di New York. Apapun yang dilakukannya selalu dimulai dari do'a Ibuk, membuat saya bercermin pada diri sendiri (karena saya tidak pernah begitu ;p). Setiap ada bonus, Bayek selalu menyisihkan untuk Ibuk, satu per satu saudara perempuannya dibuatkan rumah, juga kos-kosan untuk pensiun Bapak, Ibuk bangga sekali :) setiap kali mengirim uang untuk di rumah, Bayek selalu menyisihkan untuk dirinya sendiri dengan jalan-jalan ke tempat indah yang diinginkannya :)

Bayek memutuskan kembali ke Indonesia karena tak ingin lama-lama jauh dari rumah hatinya. Bapak selalu setia mengantar jemput Bayek di bandara setiap kali Bayek ada pekerjaan di luar kota. Bisa dibayangkan betapa sepi hati Bayek saat Bapak tak ada lagi mengantar dan menjemputnya ke bandara, karena Bapak akhirnya kalah oleh sakitnya, pergi meninggalkan Ibuk, 4 Februari 2012. Rasa sakit dan sedih yang dirasakan Bayek akan kepergian Bapak, membuat sata tak dapat menahan air mata saya.... teringat pada Bapak dan Ibuk saya sendiri, yang selama ini jarang saya hubungi. Bayek saja yang tinggal di New York hampir tiap hari menelepon Ibuk untuk minta do'a....sementara saya......sms saja tidak sempat hiks.....malu saya membaca buku ini...sekaligus tak bisa berhenti tersenyum membayangkan masa kecil yang digambarkan dengan indah oleh penulis....Good Job mas Iwan Setyawan :)